Rabu, 07 November 2012

Fatamorgana itu...


Fatamorna Itu…
Ketika malam mengajakku untuk kembali mengingat memori itu
Serasa hanya aku dan cahaya bintang di dunia ini
Hiruk pikuk itu hanyalah semut-semut kecil yang tidak memiliki arah
Hingga mata terpejam ke dunia abadi
Tiada satu pun yang membangunkanku
Hingga ku hanyut dalam tangisan cinta ilahi rabbi
Kebodohan yang kian merajut memori
Untuk mengenang kembali harapan semu
Yang tinggal fatamorgana antara keegoisan
Bersama hening malam kian terukir
Rasa cinta yang melapisi kanvas-kanvas dunia keceriaan
Kini,
Hanya tinggal menunggu sang bintang
yang terbit bersama hujan di gemerlap malam
tersentuh dalam kasih sayang samudera keangkuhan
kian menjadi harapan sang gadis malam
izinkanku tertidur dalam kenangan
yang menginginkan seorang pangeran kan segera
menjemputku untuk meninggalkan semua fatamorgana ini.

1.png                                                                                                                                Medan, 1 Muharam 1433 H

                                                                                                                                Hana Zyfia Mumtaz

Inikah Akhir senjaku_poem hanva


INIKAH AKHIR SENJAKU?
                                                                                                                              Brastagi, 22 Desember 2011
                                                                                                Goresan pena : hana zyfia mumtaz
Ku torehkan untaian kata demi kata
Berjalan menapaki duniaku saat ini
Gelap..gelap ku rasa
Dalam dekapan angin malam
Yang selalu membuat tubuh mungilku menggigil
Butiran kata demi kata
Tak pernah ku dengar dari teman-temanku
Selalu ku acuhkan kata-kata mereka
Ku sibuk dengan semua kebahagiaan sesaatku
Masa remajaku
hanya ku habiskan dengan hal-hal yang bodoh
Bermain dengan suntikan-suntikan mematikan
Ah…
Masa remajaku…
Telah hanyut besama zat-zat mematikan itu
Narkoba, psikotropika dan alcohol
Kalian semua telah membunuh masa depanku
Lihatlah……
teman-temanku yang kini telah menyandang gelar sarjana
Lihatlah…
Teman-temanku yang kini telah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya
Sedangkan aku..?
Aku hanyalah insan kotor
Yang menjadi sampah dunia
Kini teman-teman pun menjauhiku
Tiada lagi harapan dan cita
Yang mampu ku persembahkan
Untuk kedua ayah dan bunda
Hanya tumpukan penyesalan yang tersisa
Bersama puing-puing kegelapan dunia remajaku
Bersama tulisan ini
Ku pesankan pada remaja dunia
Cukup..cukup aku yang
Merasakan perihnya akibat dari barang-barang mematikan itu
Cukup aku yang menjadi sampah dunia
Ketenangan, kebahagiaan yang hanya dirasakan sesaat
Kan membuatmu kian menyesal
Dalam dinginnya malam
Diakhir tahun yang ku tutup dengan penyesalan pilu
Berharap masih ada pintu ampunan
Untuk orang kotor seperti ku
Ya….rabbi,
Beri ku waktu tuk mengabdi pada-Mu
Di akhir hidupku


Hidup ini Indah_hanva


Hidup ini kan kian indah ketika kita berfikir untuk mengindahkannya dan mengukir keindahan selalu di hidup ini.
Jangan pernah mempermasalahkan sebuah masalah karena itu perbuatan konyol.
Namun,
Jangan pernah takut akan masalah ketika ia hadir, sambutlah….!! Karena sesungguhnya masalah merupakan karunia untukmu yang menerimanya dengan hati yang besar dan menghadapinya dengan ikhlas.
Keep smile…. ^_^
Karena sungguh satu senyuman kan mampu melepaskan penat-penat diseluruh tubuhmu. Sebuah senyuman kan mampu melepas otot-otot setresmu.
Percayalah..!!!!
Maka dari itu, behavior to keep smile…

                                                                             Medan, 20 Nov’11
                                                                   Jeihan aini mumtaz al-jannah_050892

Renungan_hanva


Kini saatnya menyadari bahwa kecintaan orang tua terhadap anaknya benar-benar tak mampu terbalaskan. Terkadang ibu selalu melarang ini dan itu yang kita inginkan. Dan kita pun merasa kian terkekang. Namun, sadarilah bahwa itu adalah suatu bentuk kekhawatiran ibu yang bertanda ia sangat mencintai kita. Tiada kasih sayang dari siapapun yang mampu menandingi kasih sayang ibu. Pacar?? Tidak. Kasih sayang pacar hanya 10 % dari kasih sayang ibu.
Ingatkah kamu ketika seorang ibu mencium anaknya ketika seorang anak yang baru saja menunaikan ijab Kabul pada suatu pernikahan. Begitu eratnya pelukan sang ibu terhadap anak gadisnya. Tergambar begitu berat ia untuk melepaskan anak gadisnya. Tahukah kamu apa yang menyebabkan ia bersikap seperti itu? Ia takut kau tak terjaga oleh suamimu. Ia takut kurang disayang oleh suamimu. Ia takut akan kebahagianmu. Karena sungguh hanya ia yang mengerti semua tentangmu kawan. Kesukaanmu, manzamu, sakitmu, bahagiamu…semua ia tahu. Ingat ketika kau demam maka ibu adalah orang yang paling khawatir. Apapun akan ia relakan demi kesembuhanmu. Baru demam…yang bisa kita bilang itu sepele. Ingat ketika kau pulang sekolah tak selera makan, maka ia akan masakan apapun yang kau inginkan agar kau berselera untuk makan. Kembalilah untuk mengingat masa SDmu. Ibu selalu menyiapkan masakan terlezat untukmu sepulang sekolah. Ibu selalu berusaha membuatkan makanan yang memacu selera makanmu. Ibu terus berfikir untuk mengganti menu makanan di setiap harinya.
Kini, kau telah beranjak dewasa. Pergaulanmu mulai tak mampu terkontrol olehnya. Kau memiliki teman lawan jenis. Kau mulai perlahan melupakan ibu. Kau lebih sering komunikasi dengan teman baruu itu. Kau rela berbohong kepada ibu hanya demi teman barumu. Kau pun mulai jarang pulang. Hari libur kau manfaatkan untuk bersenang-senang dengan lawan jenismu itu. Ya sebutlah dia adalah pacarmu..your boy friend..sementara disetiap weekend ibu selalu menunggu kepulanganmu..ibu telah siapkan makanan kesukaanmu..ibu telah menunggumu didepan pintu rumah…ibu sangat merindukanmu. Apakah kau pernah memikirkan itu kawan?
Kini hubunganmu dengan ibu kian menjauh. Berawal dari teguran ibu kepadamu untuk tidak terlalu dekat dengan pacarmu itu. Namun, kau membantah amanah ibu. Kini, kau pun mulai berperang dengan ibu. Melawan semua perintahnya dan lebih mementingkan hawa nafsumu. Sadarkah kau siapa yang telah membuatmu mampu berdiri sekarang sadarkah kau siapa yang telah merawatmu tanpa bayaran selama 20 tahun? Sadarkah kau siapa yang membuatmu mampu menikmati dunia ini? Ibu…hanya dia. Ingatlah masa-masa kecilmu. Semua keinginanmu harus dipenuhi. Ibu selalu berusaha akan itu.
Dan ayah, tahukah kamu keringat yang telah dikeluarkan ayah selama ini. Pernah kah kau menyapa kelelahan ayah. Pernah kah kau bertanya kabar ayah? Pernahkah kau mengkhawatirkan ayah ketika ia belum pulang di jam 21.00?? kawan, ayah selalu mengorbankan waktu istirahatnya untuk mencari uang dan uang. Bahkan ia sering melupakan jadwal makannya. Ia sudah tak mengenal ngantuk di siamg atau malam hari. Ia tak perdulikan keringat yang telah membasahi bajunya. Bahkan terkadang ia merelakan semuanya hanya untuk memenuhi kebutuhan di rumah. Kebutuhanmu..hanya untukmu.
                                                                                                                                                Medan, 17 Desember 2011
                                                                                                                                                By : hana zyfia Mumtaz

Goresan_hanva


Hidup ini kan kian indah kita kita menikmati aliran yang ada layaknya setiap aliran darah yang memopang kita sehingga mampu bernafas saat ini. Bayangkan nikmat yang sydah seharusnya kita syukuri yang telah bercucuran Ia limpahkan ke kita tanpa ada meminta balasan sekecil apapun. Ketika masalah menghampiri maka kita langsung merasa seakan kitalah yang paling sedih di sunia ini. Kitalah yang paling miskin di dunia ini. kitalah yang paling menderita lantas kita langsung mengeluh dengan tidak langsung menyalahkan Allah. Profit sikap yang kita lakukan jelas salah sahabat. Tahukah kita semua bahwa tidak ada yang sia-sia yang diturunkan Allah di muka bumi ini. Semua punya manfaat tersendiri. Banyak hikmah yang dapat kita ambil dari segala event yang terjadi. Hari ini, ketika sahabat merasa jenuh, sendiri, sedih bangkitlah sahabat. Rasakan bahwa kamu tidak sendiri. Rasakan bahwa kebahagiaan akan segera menjemputmu. Bangkit dari keterpurukan. Lakukan hal yang positif, tebar kebaikan maka jiwamu akan selalu bahagia.
                                                                   Unimed, 08 November 2012
                                                                   At : 10.45 WIB