Rabu, 07 November 2012

MELAHIRKAN BANGSA CERDAS DI ERA GLOBALISASI MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER_KTI


Tema   : Generasi Muda Sebagai Penerus Nilai-Nilai Kebenaran
Karya Ilmiah
MELAHIRKAN BANGSA CERDAS DI ERA GLOBALISASI MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Pendahuluan
Visi pendidikan Indonesia, dalam UUD 1945 mengamanatkan bahwa hakekat visi pendidikan nasional adalah untuk menciptakan manusia Indonesia seutuhnya, menyangkut keunggulan dalam ilmu pengetahuan, spritual, keterampilan, produktivitas dan daya saingnya. Dalam ketetapan MPR No. II/MPR/1998 tentang GBHN memperinci tujuan pendidikan nasional sebagai berikut, yaitu: Pendidikan harus mampu menumbuhkan, meningkatkan kecerdasan dan dorongan untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan serta pengalamannya, sehingga terwujud manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Esa, berakhlak mulia, berbudi luhur, mandiri, memiliki disiplin dan kecerdasan serta tanggung jawab sebagai warga negara dan bangsa.
Pendidikan merupakan sarana strategis untuk meningkatkan kualitas suatu bangsa, karenannya kemajuan suatu bangsa dapat diukur dari kemajuan pendidikannya. Kemajuan beberapa negara di dunia ini tidak terlepas dari kemajuan yang di mulai dari pendidikannya, pernyataan tersebut juga diyakini oleh bangsa ini. Namun pada kenyataannya, sistem pendidikan Indonesia belum menunjukkan keberhasilan yang diharapkan.
Pendidikan di Indonesia masih belum berhasil menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang andal apalagi sampai taraf meningkatkan kualitas bangsa. Krisis multidimensi yang dialami bangsa ini diyakini banyak kalangan akibat gagalnya sistem pendidikan yang digunakan, juga merosotnya indeks pembangunan manusia (IPM) atau Human Deveopment Index (HDI) Indonesia tidak terlepas dari rendahnya kualitas pendidikan di negeri kita ini.
Data UNDP tahun 2000 tentang Human Development Report atau Human Development Indeks menunjukkan dari 174 negara, Indonesia pada posisi yang kurang menguntungkan bahkan memprihatinkan. Kita berada pada posisi ke-109, hanya 1 (satu) tingkat di atas Vietnam. Sementara Malaysia pada posisi ke-56, Brunai di posisi ke-25 dan Singapura berada diperingkat ke-22. pendeknya semua negara ASEAN berada pada kisaran angka ke-100. Kecuali negara kita tercinta, bahkan Jepang satu-satunya negara ASEAN yang mampu bertengger di atas, yakni pada posisi ke-4.
Pendidikan Indonesia saat ini merupakan hasil dari kebijakan politik pemerintah Indonesia selama ini. Mulai dari pemerintahan Soekarno (orde lama), Soeharto (orde baru), Habibie (orde reformasi) KH. Abdurrahman Wahid (orde transisi) Megawati (orde transformasi) dan yang sekarang, SBY (orde reorientasi dan rekonsiliasi). Di lihat dari realitas praktisnya, pendidikan kita masih mementingkan pendidikan yang bersifat dan berideologi materialisme-kafitalis.
Materialisasi atau proses menjadikan semua yang bernilai materi telah merunyak di segala sendi sistem pendidikan Indonesia. Sendi-sendi yang di masuki bukan hanya materi pelajaran, pendidik, peserta didik, manajemen, dan lingkungan, tetapi tujuan pendidikan itu sendiri. Jika tujuan pendidikan telah mengarah kepada hal-hal yang bersifat materi, maka apa yang dapat diharapkan dari proses pendidikan tersebut.
Dari latar belakang diatas dapat kita lihat permasalah-permasalahan yang ada akibat dari system pemerintahan-pemerintahan yang sebelumnya. Hal ini berdampak buruk pada keberlangsungan masa depan bangsa. Hal ini disebabkan oleh karakter positif yang belum mampu terintegrasi di dalam jiwa seseorang. Cerdas jika tidak berkarakter akan menghancurkan. Nah, maka dari itu penulis mengangkat judul KTI yakni MELAHIRKAN BANGSA CERDAS DI ERA GLOBALISASI MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER.
B.     Identifikasi Masalah
Rendahnya nilai karakter yang ada baik dalam jajaran pemerintahan bahkan untuk tingkat remaja mengakibat permasalahan-permasalahan dalam setiap bidang. Di tambah lagi dengan masuknya budaya baru tepatnya adanya globalisasi membuat lengkapnya permasalahan yang ada. Seperti, (1) Hilangnya budaya asli suatu daerah, (2)Terjadinya erosi nilai-nilai budaya, (3) Menurunnya rasa nasionalisme dan patriotisme, (4) Hilangnya sifat kekeluargaan dan gotong royong, (5) Kehilangan kepercayaan diri – gaya hidup kebarat-baratan.
C.    Rumusan Masalah
Adanya globalisasi menimbulkan berbagai masalah terhadap eksistensi kebudayaan daerah, salah satunya adalah terjadinya penurunan rasa cinta terhadap kebudayaan yang merupakan jati diri suatu bangsa, erosi nilai-nilai budaya, terjadinya akulturasi budaya yang selanjutnya berkembang menjadi budaya massa.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Globalisasi
Globalisasi adalah proses penyebaran unsur-unsur baru khususnya yang menyangkut informasi secara mendunia melalui media cetak dan elektronik.
Khususnya, globalisasi terbentuk oleh adanya kemajuan di bidang komunikasi
dunia.
Ada pula yang mendefinisikan globalisasi sebagai hilangnya batas
ruang dan waktu akibat kemajuan teknologi informasi. Globalisasi terjadi karena faktor-faktor nilai budaya luar. Hal ini menimbulkan beberapa dampak negative dan positif.
Globalisasi berpengaruh pada hampir semua aspek kehidupan masyarakat. Ada masyarakat yang dapat menerima adanya globalisasi, seperti generasi muda, penduduk dengan status sosial yang tinggi, dan masyarakat kota. Namun, ada pula masyarakat yang sulit menerima atau bahkan menolak globalisasi seperti masyarakat di daerah terpencil, generasi tua yang kehidupannya stagnan, dan masyarakat yang belum siap baik fisik maupun mental. Remaja sering sekali rentan dalam hal ini, dimana remaja adalah objek utama yang mampu terinstalasi oleh perubahan.
Gaung globalisasi, yang sudah mulai terasa sejak akhir abad ke-20, telah membuat masyarakat dunia, termasuk bangsa Indonesia harus bersiap-siap menerima kenyataan masuknya pengaruh luar terhadap seluruh aspek kehidupan bangsa.Salah satu aspek yang terpengaruh adalah kebudayaan.
             Terkait dengan kebudayaan, dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Atau kebudayaan juga dapat didefinisikan sebagai wujudnya, yang mencakup gagasan atau ide, kelakuan dan hasil kelakuan (Koentjaraningrat), dimana hal-hal tersebut terwujud dalam kesenian tradisional kita. Oleh karena itu nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan atau psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran.
             Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan Bagi bangsa Indonesia aspek kebudayaan merupakan salah satu kekuatan bangsa yang memiliki kekayaan nilai yang beragam, termasuk keseniannya.Kesenian rakyat, salah satu bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia tidak luput dari pengaruh globalisasi.
             Globalisasi dalam kebudayaan dapat berkembang dengan cepat, hal ini tentunya dipengaruhi oleh adanya kecepatan dan kemudahan dalam memperoleh akses komunikasi dan berita namun hal ini justru menjadi bumerang tersendiri dan menjadi suatu masalah yang paling krusial atau penting dalam globalisasi, yaitu kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengertahuan dikuasai oleh negara-negara maju, bukan negara-negara berkembang seperti Indonesia. Mereka yang memiliki dan mampu menggerakkan komunikasi internasional justru negara-negara maju.
             Akibatnya, negara-negara berkembang, seperti Indonesia selalu khawatir akan tertinggal dalam arus globalisai dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, termasuk kesenian kita. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar.
B.     Pendidikan Karakter
“Pendidikan adalah usaha-usaha yang sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak dengan tujuan peningkatan keilmuan jasmani dan akhlak sehingga secara bertahap dapat mengantarkan si anak kepada tujuannya yang paling tinggi, agar si anak hidup bahagia serta seluruh apa yang dilakukanya menjadi bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.” Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menamamkan nilai-nilai karakter kepada anak usia sekolah yang dimana nilai-nilai tersebut memiliki komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa .
Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Nah, dalam hal ini pendidikan berkarakterlah yang diperlukan dalam dunia pembangunan. Adapun karakter yang ditanamkan disini yakni dapat dipercaya ( trustworthines), rasa hormat dan perhatian ( respect ), tekun ( diligence ) , tanggung jawab ( responsibility ) berani ( courage ), integritas ( integrity ), peduli ( caring ), jujur ( fairnes ) dan kewarganegaraan ( citizenship ).
Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen olehsoft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pengaruh globalisasi disatu sisi ternyata menimbulkan pengaruh yang negatif bagi kebudayaan bangsa Indonesia .Norma-norma yang terkandung dalam kebudayaan bangsa Indonesia perlahan-lahan mulai pudar.Gencarnya serbuan teknologi disertai nilai-nilai interinsik yang diberlakukan di dalamnya, telah menimbulkan isu mengenai globalisasi dan pada akhirnya menimbulkan nilai baru tentang kesatuan dunia.
Radhakrishnan dalam bukunya Eastern Religion and Western Though (1924) menyatakan “untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, kesadaran akan kesatuan dunia telah menghentakkan kita, entah suka atau tidak, Timur dan Barat telah menyatu dan tidak pernah lagi terpisah.Artinya adalah bahwa antara barat dan timur tidak ada lagi perbedaan. Atau dengan kata lain kebudayaan kita dilebur dengan kebudayaan asing. Apabila timur dan barat bersatu, masihkah ada ciri khas kebudayaan kita? Ataukah kita larut dalam budaya bangsa lain tanpa meninggalkan sedikitpun sistem nilai kita? Oleh karena itu perlu dipertahanan aspek sosial budaya Indonesia sebagai identitas bangsa.Caranya adalah dengan penyaringan budaya yang masuk ke Indonesia dan pelestarian budaya bangsa.
Bagi masyarakat yang mencoba mengembangkan seni tradisional menjadi bagian dari kehidupan modern, tentu akan terus berupaya memodifikasi bentuk-bentuk seni yang masih berpolakan masa lalu untuk dijadikan komoditi yang dapat dikonsumsi masyarakat modern. Karena sebenarnya seni itu indah dan mahal.Kesenian adalah kekayaan bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya dan tidak dimiliki bangsa-bangsa asing. Oleh sebab itu, sebagai generasi muda, yang merupakan pewaris budaya bangsa, hendaknya memelihara seni budaya kita demi masa depan anak cucu.
B.     Saran
Dari hasil pembahasan diatas, dapat dilakukan beberapa tindakan untuk mencegah terjadinya pergeseran kebudayaan yakni dengan melahirkan bangsa cerdas di era globalisasi melalui pendidikan karakter. Dalam hal ini baik pemerintah pusat, nasional maupun sunia pendidikan harus memulainya sejak dini agar kita tidak terperosot dalam lembah kehinaan tanpa karakter.

DAFTAR PUSTAKA
                                                                                                Medan, 07 November 2012


BERSAMA APRIL IZINKAN CINTAKU TERPAHAT HANYA UNTUKMU_cerpen


BERSAMA APRIL IZINKAN CINTAKU TERPAHAT HANYA UNTUKMU
Ketika rintikan hujan mengajakku untuk melamun sore ini. Kenyataan yang sulit untuk ku hadapi. Cinta ini begitu dalam hanya untuknya. Namun kini cinta ini mendapat cobaan yang begitu menyiksaku. Di hari bahagia ini dimana teman-teman begitu bahagia dengan gelar sarjananya saat ini. Ya hari ini adalah hari bahagia untuk kami mahasiswa University of Angel’s. tapi tidak dengan hatiku. Kini ku menyendiri bersama rintikan hujan sore ini. Sementara teman-teman diluar sana begitu bahagia merayakan keberhasilan mereka.
“Cin..udah makan?” (ujar mama menghampiriku di kamar)
“hem…masih kenyang ma” (jawabku)
“ada apa dengan kamu Cin? Mama lihat dari tadi seperti ada yang sedang kamu fikirkan, coba cerita ke mama”
“(Cinta hanya tersenyum)”
“yaudah kalau belum mau cerita, kalau butuh ditemeni panggil aja mama ya”
“iya, makasi ma,”
Makan? Nggak ngerasa lapar dari tadi. Antara rela dan tidak ku melepas Arief. Amerika bukan dekat. Lantas apakah hati ini sanggup untuk semua ini. Melepas dia hingga Amerika. Kenyataan yang sangat pahit.
            April tinggal hitungan hari, ini hal yang mustahil tapi nyata. Terakhir pertemuan kami 3 hari yang lalu di upacara wisuda, itupun ku hanya melihat dia sekilas. Oh Tuhan seperti tidak ada cinta diantara kami. Sebenarnya ada apa ini? Hingga detik-detik keberangkatanya pun ia tiada menemuiku. Apa dia begitu membenciku, lantas kenapa dia membenciku apa salahku.
            H-2 keberangkatan Arief ke Amerika aku pun memutuskan untuk berlibur di Villa yang di Sumatera. Aku pengen nenangin diri sejenak. Ku nggak ingin ada disaat Arief pergi karena begitu sakit melihat kepergian dia. Semoga Sumatera mampu mengobati kesedihan yang begitu dalam ini.
            Pesawat pun meluncur ke Sumatera. Tak terasa aku sudah sampai di Sumatera dan di Bandara ku dijemput oleh supir kakek yang di Sumatera. Pemandangan yang begitu indah di sepanjang perjalanan menuju Villa. Namun semua itu tak mampu melupakan bayangan Arief. Begitu sulit untuk jauh dari bayang-bayangnya. Hingga detik ini tidak ada kabar apapun darinya. Begitu membuatku semakin gundah. Akhirnya sore itu ku putuskan untuk menonaktifkan ponselku.
            Genap satu bulan keberangkatan Arief, hingga detik ini belum juga ada kabar darinya. Hanya bintang gemerap malam ini yang mengetahui hatiku kini. Rindu yang sangat menyayat hati. Namun begitu tak jua ku mampu menggantikan posisi Arief dengan nama lain. Padahal sudah dua lamaran dari pihak keluarga mama datang dalam waktu satu bulan belakangan ini. Hanya nama Arief yang terpahat.
            Terasa lama sudah ku di sumatera, tiba-tiba kakek mengejutkanku dengan formulir beasiswa S-2 ke Singapore. Tanpa berfikir panjang ku langsung menyetujui tawaran kakek sore itu juga. Esoknya ku langsung balik ke rumah untuk mengurus persyaratan yang ada. Tiga hari kemudian ku langsung berangkat ke Singapore. Awalnya mama kurang setuju dengan keputusanku untuk melanjut s-2 di Singapore. Karena menurut mama Singapore begitu jauh dan mama takut akan kondisi kesehatanku. Namun ku tetap keras untuk melanjutkan studiku. Ku berikan alasan kepada mama. Kalau ku tidak melanjut studiku lantas ku kan terus berada dalam kesedihan mengenang Arief. Mendengar keputusan itu akhirnya mama mengizinkan. Karena menurutku hanya Singapore yang mampu mengobati kepiluan ku saat ini. Welcome Singapore and say god bye to Story about Arief.
            Menjadi mahasiswa Singapore adalah identitasku saat ini. Mengukir kembali cita-citaku bersama sahabat tercinta sang bintang di malam gemerlap. Tanpa menghancurkan cintaku terhadap Arief. Namun sedikit melupakan kepiluan atas kepergiannya yang tiada kata. Namun, kini ku mulai memahami posisi Arief ketika itu. Karena ia begitu menginginkan S-2 Amerika itu. Di malam gemerlap ku selalu menyempatkan diri untuk berdua bersama bintang menghirup udara malam. Selalu berharap Arief hadir dimalam itu.
            Ujian akhir semester kini didepan mata, bayangan Arief tetap menghampiri dan kini ku jadikan bayangan itu motivasi prestasiku. Dihari pertama ujian Akhir semester tepat hari ulang tahun Arief. Ku ingin menghadiahkan nilai terbaikku dihari ulang tahunnya ini. Ku nggak akan menghubunginya atau mengirim sesuatu untuknya. Ku akan tetap diam hingga ia memulai untuk bersuara. Bukan berarti ku marah padanya, namun ini kan menjadi pelajaran terindah untukku.
            Hari-hariku di Singapore hanya focus pada S-2 ku. Karena kefokusan aku itu akhirnya ku berhasil menyelesaikan S-2 ku di Singapore dalam waktu genap 1,5 tahun. Dan tibalah waktunya ku pulang ke Indonesia. Ku rindu akan Indonesia dan teman-temanku tentunya.
            Di hari kepulangan menuju Indonesia ku coba untuk mengaktifkan kembali ponselku yang kian lama sudah ku non aktifkan. Satu message yang keluar begitu ku aktifkan. Message di tanggal kepergian Arief ke Amerika dan pesan itu tepat dari Arief “bersama april izinkan cintaku terpahat hanya untukmu”. Hanya ekspresi biasa yang timbul ketika itu. Bahagia ataupun sedih tiada terukir. Tak terasa pesawatku telah mendarat kembali di kampung halaman. Welcome again Indonesiaku. Senyuman hangat yang kuberikan dimalam itu. Sesampai di Indonesia ku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Bandung. Dimana ku ingin keesokan harinya ku langsung menghirup udara di kota kembang itu. Ku ingin ke suatu tempat dimana ku dan Arief menyukai tempat itu. Ku ingin benar-benar mencari jawaban akan cinta ini. Jika memang ku harus mengubur cinta ini, maka disanalah tempatnya.
            Matahari yang begitu indah menyambut bangun tidurku. Ku menyibakkan tirai kamar tempat penginapanku. Tepat kamar itu berada di bibir pantai. Pantai tempat ku dan Arief selalu membuang masalah-masalah yang membumbui kehidupan kami. Tiada seorangpun terlihat disana. Hanya pepohonan yang kian menari bersama deburan ombak. Pagi yang begitu indah ujarku dalam hati.

IZINKAN CINTA UNTUK MEMILIH_cerpen


IZINKAN CINTA UNTUK MEMILIH
Semilir angin kian menggoyahkan hati untuk menyerah dengan tantangan yang cukup spektakuler bagiku saat ini. Ia kian menyedot perhatianku dengan menari di ufuk kerlipan indah tatapanku. Kian ramai sekelilingku dengan canda tawa dari beraneka tingkatan umur dari balita hingga lansia. Berbagai macam aktivitas yang mereka lakukan untuk terus bertahan dengan beragam goncangan sandiwara kehidupan yang fana ini. Terlintas bayangan sosok pria yang dari tadi kian memperhatikanku. Sorotan matanya yang dari kejauhan terus membuatku semakin penasaran. Langkah kaki ingin mendekatinya namun tak mungkin ku lakukan. Tatapannya yang tajam kian menggerogoti hatiku mengajak untuk menjemputnya di singgasana senyuman indahya. Derap kaki yang kian ku hayunkan terasa seperti barisan panglima perang yang ingin menghadang musuh. Semakin mendekat sosok pria itu pun berdiri dan melangkah menyambut kehadiranku.
“Mau  kemana?”
“Ketemu kamu, aku Sasya. kamu?”
“Ferdy. Apa kita sudah pernah kenal sebelumnya?”
“mungkin,”
“kok mungkin sih?”
“Ya, menurut kamu?”
“aku ngerasa kamu itu nggak asing lagi”
“ya, mungkin”
“idih…kok mungkin mulu sih?”
“ya, Sasya juga nggak tau apakah kita pernah kenal sebelumnya”
“lantas, ngapain kamu nyamperin aku?”
“yeah…kepedean. Yang ada kamu tuh yang nyamperin Sasya..mau kenalan kan?”
“idih…sumpah pede banget sih jadi cewek”
Perbincangan pun terus mengalir bagai air bersama canda tawa dan perkelahian kecil sembari berkeliling mengitari stadion. Angin benar-benar seperti telah mengirimkan secercah kebahagiaannya untukku di hari itu. Aku benar-benar nggak tau kenapa tampak begitu akrab dengannya. Permasalahan klassik kian larut bersama hari itu. Ternyata dunia yang ku kira sempit bukanlah statement yang bisa dipertanggung jawabkan. Dunia yang cukup luas dengan kebahagiaan ketika kita berani menjemput kebahagiaan itu. Kebahagiaan tidak akan mungkin datang begitu saja tanpa adanya usaha untuk menjemputnya. Kini kesendirianku telah pupus bersama larutnya permasalahan klassik yang telah disemai oleh nuansa baru bersama Ferdi. Keakraban yang begitu indah terasa saling mengisi. Keceriaan kian melingkup dalam hari-hariku. Serasa ingin hidup seribu tahun lagi dengan keadaan yang seperti sekarang.  Tiada sempat waktuku untuk murung, cemberut, apalagi nangis. Ferdi telah masuk dalam kehidupanku dan mewarnainya. Banyak pelajaran berharga yang ku dapat darinya, pelajaran untuk menyayangi orang lain, menghargai orang lain, mengerti orang lain dan lainnya. Bagaimana mungkin kita akan dihargai orang lain sementara kita tidak memulai untuk menghargai orang lain. Bagaimana mungkin orang lain akan menyayangi kita sementara kita asyik membenci orang lain. Dan bagaimana mungkin orang lain akan menghargai kita sementara kita tidak pernah menghargai orang lain. Kini ku mulai mampu menebar kasih sayangku untuk orang lain, emosiku lebih terkontrol dan kehidupanku lebih baik dari sebelumnya. Tanpa Ferdi serasa sepi hari-hariku. Ku seperti sudah mengenal lama sosok Ferdi. Walaupun usia perkenalan kami baru memasuki dua bulan, namun ku seperti sudah ketergantungan padanya. Ku tak ingin kehilangan sosok dia. Penyemangat, teman berantam, tukar informasi dan pengalaman. Ferdi seperti soulmate hidupku. Apakah ini yang namanya soulmate yang ada di novel-novel itu??? Ah…lamunanku tentang Ferdi berhenti sejenak ketika telpon berdering.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam warahmatullah…. Ada apa Fer?”
“hm…lagi ngapain Sya??? Jangan mikirin aku terus ya..”
“idih…pede tingkat dewa banget sih lo…..nggak kok..”
“nggak apa? Nggak salah lagi ya??”
“hm…to do point za deh, ada apa nelpon? Kangen ya”
“nah, itu kamu tau….”
“ya aku kan orangnya emang ngangenin”
“hm..iya, aku kangen kamu….ke gramedia yuk”
“ok..”
“tapi kamu dandan yang cantik ya, soalnya aku malu kalau jalan sama orang jelek kayak kamu.”
“idiiih…..nggak salah? Yang ada aku yang malu jalan sama cowok jelek kayak kamu”
“duh..duh….panjangnya repetannya..yaudah gih sana siapan, 15 menit lagi aku nyampe, ok.”
“iya..iya pangeran…”
“yaudah ya, assalamau’alaikum”
“wa’alaikum salam warahmatullah.”
Salam kerinduan kepada sang pencipta langit di malam yang kian hening bersama tetesan hujan dan dinginnya malam. Kegelapan selalu setia menemani malam yang hujan. Indahnya cahaya sang bintang kini tak mampu terpancar ke kamarku. Berdua dengan sang pencipta serasa nyaman. Keluhan duniawi selama ini kian terkikis bak hujan yang mengikis debu di jalanan. Terasa bersih jiwa ini setelah berdua dan bermunajat dalam tahajud-Nya. Ketika sang mentari menampakkan sinarnya pertanda aktivitas duniawi telah menungguku dengan segudang agenda yang terkadang membuatku seperti tak sempat untuk benafas. Deretan agenda yang seakan memaksaku untuk tidak memiliki waktu dengan Ferdy lagi. Miss communication pun kian tercipta diantara kami.
Salam hangat di sore hari ketika pelangi menampakkan keindahannya di tengah stadion yang seakan aku sendiri disana walaupun banyak mata yang juga merasakan keindahan itu. Sore itu seakan hanya aku yang menikmati pancaran keindahanya. Tanpa ada seorang pun yang menggangguku ketika itu. Rintikan hujan kian membasahi bumi serasa membasahi hati yang kini merindu akan sosok yang selama ini mewarnai hari-hariku. “Inikah cinta yang selama ini dirasakan oleh banyak kalangan pemuda dan remaja” ujarku dalam hati. Perasaan yang seakan menusuk hatiku sendiri, ingin rasanya menjeritkan apa yang aku rasakan saat ini. Rasa rindu yang kian membara hanya waktu bersamanya yang aku inginkan saat itu. Sang pelangi kini telah tenggelam bersama terbitnya sang bintang. Namun, ku masih saja menunggu berharap sang pangeran hadir di tempat itu. Stadion tempat ku pertama mengenalnya dan bertemu. Bersama sang bintang dan sejuknya malam kerinduan terasa semakin mencabik-cabik hatiku yang kian meringis. Tangisan hati yang hanya mempu ku ceritakan pada sang bintang malam itu.
Weekand ceria bersama keluarga besar. Rentetan nasehat tercurah untukku yang sedang menapaki dunia mahasiswa. Bunda selalu berpesan agar ku jauh dari dunia “pacaran” karena takut akan mengganggu dunia akademikku. Juga bunda takut kalau lelaki yang ku dapat adalah satu dari buaya-buaya darat di dunia ini. Bunda juga sangat khawatir akan efek pergaulan bebas yang sedang marak saat ini. Bunda bilang kalau kita sebagai cewek bukan mencari tetapi menungu. Ntahlah apakah kalimat itu masih pantas untuk zaman emansipasi saat ini. Tapi ku selalu yakin bahwa sang khalik telah menyiapkan sosok pasangan yang akan membimbingku menuju kebahagiaan yang abadi di dunia dan akhiratnya.
“bagaimana kabar kuliahnya Sya?”
“Alhamdulillah lancar om”
“wah, sudah banyak dunk pangeran berkuda putih yang ngantri sama keponakan om yang sweet smart ini”
“paan sih oom ada-ada aja”
“bukan pangeran berkuda putih om, sekarang mah pangeran ber avanza putih..hehehe” ujar sepupuku
“iya..iya maksud om juga itu Ca..”
“enggak-enggak..Sasya itu harus selesaikan kuliahnya dulu baru boleh cari pangeran” ujar bunda
“loh, kakak ini gimana sih? Yang nyuruh Sasya untuk cari pangeran siapa? Saya kan bilang yang antri. Lagian saya juga nggak rela keponakan saya yang satu ini harus mencari-cari. Kalau butuh stock saya banyak tuh sudah terkraditas lagi.”
“om ma Ica paan sih, jadi merepet si bunda kan… pake stock terakraditas lagi, emang kampus apa terakraditas..?”
“hm..BTW lagi dekat ma siapa sekarang Sya?” bisik Ica
“idiiih paan sih Ca?? ntar denger bunda loh, jadi brabe kan.”
“iya-iya Cuma rahasia kita aja kok..”
“hm…ikutin aja tweet Sasya Ca..”
“iya, selalu Sya, lagi ada masalah ya sama doi?”
“Miss communication Ca”
“gara-gara apa?”
“kesibukan kami masing-masing membuat kami tidak punya waku lagi”
“sekedar smsan atau telponan?”
“ya, terkadang untuk sms aja tunggu berhari-hari baru dapat balasan. Begitu juga dengan smsnya berhari-hari baru sempat Sasya balas. Waktu off kami sering berbentur Ca, nggak pernah sama.”
“hm…lantas sebenarnya hubungan kalian apa sih?”
“kami tidak pernah memvonis hubungan kami itu berbentuk apa, namun kedekatan kami dan komitmen kami sudah terbentuk.”
“mengarah maksudnya”
“ya, seperti itulah. Sya juga berharap dia yang terakhir untuk selamanya”
“seyakin itu Sya? Sebaik apa sih dia?”
“hm..jadi penasaran. Uda coba certain ke bunda?”
“mana berani Ca, bisa-bisa disuruh berhenti kuliah Sasya”
“yaelah Sya, itu kan pendapatmu. Uda pernah dicoba?”
“belum dan nggak akan”
“yah…belum usaha udah nyerah duluan”
            Kilatan petir membuyarkan lamunanku akan informasi yang di posting Ferdy di tweetnya. Go S2 ke Amrik. Akademik yang cukup memuaskan bagi setiap mahasiswa dan pasti membanggakan untuk dijadikan hadiah untuk orang tua. Namun, ku tak mampu membohongi hati ini yang semakin menjerit. Karena sudah pasti long distance atau bahkan komunikas yang terputus. Aku nggak mau menjadi penghancur keputusannya. Live is choice. Bukankah langkah, rizki, pertemuan dan maut telah ditentukan Allah dan pasti datangnya. Jika ku emang berjodoh dengannya InsyaAllah ku kan bertemu di waktu yang tepat. Namun, serasa sandiwara semua ini , seperti beracting di dunia ini. Hari-hari indah kemarin seperti lukisan saat ini. Kenapa harus ada pertemuan jika ada perpisahan. Kenapa harus ada kenangan jika memang ada kesendirian. Kebahagian itu serasa sebentar bagai kerlipan mata. Sedangkan kesenderian serasa hidup ribuan tahun. Mungkin dengan bersandiwara lagi-lagi akan menyelesaikan permasalahan hati ini. Ponsel ku pun berbunyi telpon dari Ferdy. Ia mengajak ku bertemu di stadion H-7 sebelum keberangkatannya ke Amrik. Apalagi kalau bukan membicarakan masalah kepergiannya. Ya, kamu harus tegar Sya, hapus air matamu dan ceriakan wajahmu di depannya, ikhlaskan kepergian sementaranya untuk menuntut ilmu.
“udah lama nunggu?”
“nggak kok”
“sendiri aja?”
“Iya, gimana kabarnya?”
“hm.. sakit,”
“sakit apa? Sehat kegitu kok dibilang sakit?”
“ikut yuk ke Amrik,”
“haha…becanda aja. Nggak  mungkinlah. Sasya juga punya amanah disini. Itu sudah menjadi pilihanmu. Jalani dan pertanggungjawabkan. Jangan pernah mundur sebelum berperang. Cuma 2 tahun kan? Setelah itu kamu bisa melanjutkan misimu disini. Bukankah itu cita-citamu? Perjuangkan sobat.”
“baiklah. Boleh minta sesuatu?”
“apa itu?”
“titip hati ini. Jaga hati ini. Kamu yang bilang 2 tahun itu sebentar. Dan kita harus buktikan itu.”
“(hanya tersenyum)”
“kenapa diam?”
“Iya, insyaAllah”
Ini adalah pilihan dan harus dilewati. Bagaimanapun aku harus tetap tegar di depan dia. Aku nggak boleh lemah. Aku akan tetap menunggunya sampai waktu itu tiba.
“nggak minat S2 Sya?”
“istirahat dulu lah bun, Sya pengen masuk Tahfidz. Boleh ya bun?”
“yakin nak? Bunda sih izin-izin saja. Terserah mana yang baik menurut Sasya”
“InsyaAllah yakin bun, ini pilihan dan cita-cita Sasya. Sya nggak mampu memberikan harta yang berlimpah kepada bunda dan keluarga. Sya ingin memberika mahkota ke bunda dan keluarga di hari akhir nda..”
“amin. (terharu dan memeluk Sasya)”
Live is choice. Hidup ini adalah pilihan. Ketika kita sudah berani untuk mengambil keputusan akan pilihan kita maka kita harus mampu mempertanggung jawabkannya. Segala sesuatu di muka bumi ini adalah tantangan yang harus kita lalui. Setiap pertemuan pastilah ada perpisahan. Jangan pernah menyerah untuk melewatinya. Karena indah pada waktunya.

                                                                                                Medan, 15 Oktober 2012
                                                                             By : Hana Zyfia Mumtaz