tiada yang miliki kekuatan termanis kekuatan-Nya. Ia sang maha pemberi surprise. tiada yang mampu menandingi sekalipun the best surprisr sekalipun. ya, karena yakin hanya Ia maha segalanya.
**
Rintik hujan menemani perjalanan dalam peluk-Nya. menikmati sentuhan hujan yang begitu manja dalam keromantisan. menelusuri bait-bait setiap tetes hujan dalam penuh senyuman adalah keromantisan terindah. Ketika bersyukur senantiasa nikmat perjalanan yang ditakdirkan-Nya. ah, semakin mencintai dengan semua takdir indah-Mu. kian mensyukuri semua cerita hari ini. izinkan ku terus semakin jatuh cinta dan kian mencintai-Mu. Hanya Kamu ya Rabb,
**
sebuah senyuman kan mampu membuat hari-harimu terasa bahagia walaupun sejuta masalah menghampirimu.. :)
Rabu, 11 Mei 2016
Senin, 09 Mei 2016
dinding tembok kamar
dinding tembok kamar ternyata tak membuatku lebih sehat bukan. dinding tembok kamar juga lantas tak menyiapkan amanahku bukan. aku hancur berada diantara dinding-dinding itu. aku lebih merasa bernafas ada disini. disini bersama sang alam. aku bukan kamu. aku juga bukan kalian. kau adalah aku dengan semua kekuranganku. aku adalah aku yang hanya menganggap diriku yang paling mengenalku. aku adalah kegoisanku dengan sejuta mimpi yang ingin kuraih sekalipun dalam dekapan rangkak bebiru. aku bukanlah gadis jalanan yang cengeng. sekalipun aku ada di jalanan dnegan hiruk pikuk yang kotor bahkan gelap. aku titip sebuah karya untuk senyuman kalian, walaupun ku sendiri tak mampu mengukir senyuman yang sesungguhnya pada diriku sendiri. bukan tentang kelemahan namun inilah diriku. bagaikan lilin yang akan bahagia dengan mampu menyinari kalian. kebahagiaanku adalah bersama orang-orang yang menyayangiku. lantas, ketika ku berada dalam kebahagiaan itu dengan mudahnya kalian pergi, kalian pergi tanpa mengindahkan diriku yang terkapar dalam gelombang hitam yang nyaris ntah mau menuju arah mana. aku sepi dalam himpitan tembok-tembok kegelapan. ingin menjerit, namun bodoh. tidak akan ada yang mendengarku.
memori hitam
ah, terkadang kita terlalu egois untuk bercerita di dalam ruang yang hanya ada kita. kita terlalu egois untuk merasa kuat menelan pahitnya kopi hitam yang kita anggap tak enak. namun, terkadang semua itu adalah kebodohan semata. kita tertutup oleh dunia yang hanya penuh dengan keegoisan semata. kita tutup pintu diri kita dari cinta dan kasih sayang orang-orang yang ada di sekeliling. bukan tentang seberapa hebat kita menelan pahitnya kopi hitam. tapi, alangkah salahkah mereka yang hanya ingin memlukmu dari dinginnya sang malam di kota itu. ah, ntahlah. mungkin semua ini akan berakhir dengan indah. karena hidup ini cuma sementara bukan.
Rabu, 26 Agustus 2015
Story about story
Berawal
dari sebuah mimpi. Impian itu telah ku ukir sejak SD. Sekalipun orang-orang
disekelilingku mencemooh mimpi yang ku punya. Mama selalu berpesan, “jangan
terlalu bermuluk-muluk nak, kita orang kecil, kamu bisa tamat SMA ini saja
sudah mukjizat dari Allah. Lihatlah kehidupan kita, suatu keniscyaan mama mampu
mengkuliahkanmu nak.” Aku hanya mampu membalas pesan mama dengan senyuman
sembari berkata “ia ma, han nggak akan nyusahin mama kok, kalaupun han ingin
kuliah han akan sambil kerja, tiada keniscayaan ma, jika Allah mengizinkan. Han
Cuma butuh restu dari mama. Kita serahin semua kepada Allah ya ma.”
Mei
2010, teman-teman di sekolah tampak begitu sibuk untuk memilih kampus tujuan
dan jurusan yang mereka cita-citakan. Begitu banyak tawaran undangan dari
berbagai kampus bergengsi di Indinesia. Namun, aku hanya bisa menjadi penonton
di saat kesibukan teman-teman. Sepulang sekolah, ku dipanggil oleh kepala
sekolah ke ruangannya. “Jehan, kenapa kamu belum memilih kampus tujuan?” lantas
kepala sekolah mengeluarkan undangan dari kampus UGM. “baiklah jika kamu belum
memilih, ini bapak pilihkan kampus yang paling bergengsi tentu kamu tidak akan
menolaknya.” Aku hanya mampu tertunduk dan menjawab dengan tegar “maaf pak,
bukannya saya tidak mau namun saya tidak ada dana untuk melanjut ke perguruan
tinggi itu.” Aku pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Panasnya
terik siang itu tak sedikitpun mematahkan semangatku dan membuatku untuk
menyalahkan keadaan. Ku yakin ku tetap mampu berkuliah sekalipun harus kuliah
di kampus yang di pandang tidak berkualitas. Sesampai di rumah ku hanya mampu
berdo’a. Sepanjang waktu dan malam ku hanya mampu memohon kepada-Nya untuk
memberikan yang terbaik. Dalam hening malam ku selalu curahkan harapanku
kepada-Nya. Ketika malam hadir diatas sajadah-Nya ku merasa tenang ketika
harapan-harapan itu ku serahkan pada-Nya sembari memandangi ukiran mimpi yang
telah ku goreskan di buku catatanku.
Di
hari berikutnya ku kembali dipanggil oleh kepala sekolah ke ruangannya. Dengan
langkah yang pasti berbalut senyuman indah dan harapan yang besar ku menuju
ruangan tersebut. “ini ada tawaran kuliah dengan beasiswa, namun saya juga
belum pernah dengar sebelumnya. Silahkan kamu isi formulir ini di rumah,
selanjutnya kita akan coba kirim.” Dengan senang hati ku terima formulir itu
dan membawanya pulang ke rumah.
Setiba
di rumah aku sempat bingung untuk menceritakan tentang formulir yang ku dapat
ke keluarga. Karena hal ini pernah terjadi sebelumnya. Ketika ku mendapat
tawaran beasiswa untuk melanjut ke SMA bertaraf internasional di pulau jawa
ayah dengan tegas menentang keinginanku tersebut. Dengan berat hati beasiswa
SMA itu aku lepas begitu saja. Lamunan ku tersentak oleh panggilan mama untuk
membantunya di dapur. Sembari membantu mama memasak ku beranikan diri untuk
menceritakan tentang formulir beasiswa tersebut. Mama tidak ada mengeluarkan
komentar, malah meninggalkanku ketika itu. Lantas aku menceritakannya ke
kakakku. Kakak juga lagi-lagi malah menceritakan kalau itu tidak mungkin.
Karena beasiswa itu belum pernah ada sebelumnya. “sudahlah dek, gausah bermimpi
terlalu jauh, mana ada itu beasiswa.” Aku pun mengambil kembali formulir itu
dan mengisinya secara diam-diam. aku tidak berani menceritakan tentang formulir
itu ke ayah, karena pasti akan ditentang lagi.
Keesokkan
paginya dengan terburu-buru aku meminta tanda tangan mama, tanpa bertanya
karena kesibukan rumah di pagi hari mama tidak melihat berkas yang di tanda
tanganinya. Aku pun merasa lega dan berhasil memperoleh tanda tangan mama.
Setelah
seminggu pemberkasan ku ceritakan ke mama bahwa formulir kemarin tetap ku isi
dan ku kirimkan. Ku mohon ke mama untuk meRidhoiku untuk mengikuti seleksi itu.
Berlanjut sebulan, belum juga ada pengumuman tentang kelulusan beasiswa yang ku
ikuti sementara teman-teman sudah mendapat pengumuman. Sembari bekerja sebagai
seorang guru privat ketika itu ku tetap menunggu detik-detik pengumuman itu.
Sepulang dari ngajar ku mendapat telepon dari Universitas Negeri Medan yang
menyatakan aku lulus dengan nilai sempurna sebagai mahasiswa penerima beasiswa
Bidik Misi 2010 di jurusan PGSD. Serasa mimpi ketika itu ku langsung
menceritakan kabar baik itu ke mama. Lagi-lagi sekeluarga belum percaya akan
adanya beasiswa itu. Namun dengan langkah yang pasti ku yakin ini jawaban Tuhan
dari do’a-do’aku selama ini.
14
Mei 2014 aku berhasil menjadi mahasiswa pertama di jurusan yang menembus 3,5
tahun untuk menyelesaikan studi S-1 ku. Tepat di hari bahagia itu aku mampu
mempersembahkan pakaian togaku dengan prestasi freshgraduate dan cumload untuk
orang tua tercinta. Di gedung yang penuh haru tepat kursi ku berada di samping
wisudawan magister pendidikan dan mama berkata “mama ingin sekali melihat anak
mama berhasil memakai toga S2, kapan ya?” dengan tegas dan penuh semangat ku
menjawab “amin, mohon do’anya ya ma, toga magister akan han persembahkan di
tahun berikutnya.”
15
Mei 2015 aku iseng untuk mengecek email. Satu inbox undangan dari kementerian
pendidikan yang isinya ucapan selamat karena sebagai mahasiswa berprestasi dan
mereka melampirkan undangan untuk mengikuti beasiswa S2 LPDP. Tanpa berfikir
panjang ku telusuri web yang dilampirkan. Hampir patah semangat karena ternyata
tidak ada list kampus pendidikan yang dituju sesuai dengan jurusanku saat itu.
Dengan ide gila, ku beranikan untuk menghubungi pihak kemendikbud menanyakan
hal tersebut. Seorang ibu yang menjadi motivator bagiku, memberikan penerangan
dan meyakinkanku agar ku mengikuti beasiswa itu dan menanyakan akan pola
universitas pendidikan yang ku inginkan. Berlanjut dengan menghubungi pihak
yang lebih berwenang atas beasiswa itu dengan ramah dan begitu loyal, sang
bapak memfasilitasiku dengan informasi yang ku butuhkan. Sejak priode itu
ditetapkanlah unversitas pendidikan masuk ke dalam list LPDP.
Tahapan
demi tahapan seleksi ku ikuti dengan selalu menyandarkan Allah di hatiku,
kemanapun dan apapun keputusanku dalam memilih. Sembari menunggu pengumuman
kelulusan dari LPDP ku melengkapi berkas untuk mendaftar di UPI sebagai kampus
tujuan. Sore yang penuh kesibukan ketika ku ingin mentransfer uang untuk
pendaftaran dan memesan tiket untuk keberangkatan ujian di UPI ku dikejutkan
oleh kabar gembira bahwa adikku lulus di S-1 UNI Syarif Hidayatullah, Jakarta
dan harus segera melakukan daftar ulang. Dengan berat hati ku harus melepas
keinginan untuk melanjut ke UPI. Karena ku yakin masa depan adik ku lebih utama
ketika itu. Aku nggak mau hatinya hancur ketika ia menceritakan kelulusan itu
dan orang tua mematahkan semangatnya. Dengan senyuman dan airmata kurapikan dan
ku simpan berkas pendaftaranku. Dan menyambut kabar gembira dari adikku. “kamu
akan berangkat sayang, kamu nggak usah fikirkan dari mana uangnya. Kamu siapkan
saja berkasnya dan kamu kuatkan hati untuk berangkat ke jakarta ya. Kakak akan
usahakan keberangkatanmu. Allah akan memberi jalan kepada kita.”
Lagi-lagi
keluarga mencemooh ide gilaku untuk mendukung adikku berkuliah di luar kota.
Bahkan ketika itu aku harus mendengar cemoohan bahwa ku dianggap sebagai anak
tidak tau diri yang memiliki mimpi nggak sesuai dengan kehidupan. Apalagi
mereka mendengar aku ingin melanjut S-2. Aku hanya tersenyum dengan cemoohan
itu. Dan tetap mencari tiket serta mengumpulkan ide untuk mendapatkan total
uang tersebut.
Dengan
izin Allah ku berhasil memberangkatkan adikku dan memberikan keyakinan kepada
orang tua bahwa ini yang terbaik untuk masa depan adikku. Malam itu ayah begitu
terkejut ketika adikku harus meminta izin karena ingin berangkat. Awalnya ayah
marah besar dan sempat emosinya tak terkontrol. Namun aku pertegas bahwa aku
dan adikku tidak akan meminta dana sepeserpun karena semuanya sudah siap, tiket
sudah ada dan adik siap terbang. Ayah terduduk diam mendengar penjelasanku. tak
terfikirkan lagi nasib pendaftaran S-2 ku ke UPI. Aku hanya mampu
memasrahkannya kepada Allah.
Berkeliling
di lapangan kampus hijauku tentunya menjadi kebiasaan yang ku sukai ketika
kepenatan menghampiriku. Tanpa sengaja terbaca olehku jadwal pendaftaran
pascasarjana di kampus S-1 ku itu. Ku beranikan untuk meminjam uang kepada
orang lain untuk mengambil formulir pendaftaran ketika itu. Dan alhamdulillah
setelah mengikuti seleksi ku berhasil lulus di jurusan yang ku tuju. Setelah
pengumuman di pascasarjana ku mendapat panggilan wawancara dari LPDP. Dan
luarbiasa mukjizat Tuhan lokasi wawancara tidak perlu mengeluarkan biaya. Belum
pernah sebelumnya kampusku menjadi tempat wawancara. Ku hanya tersenyum dan ini
adalah jawaban atas doa’a-do’aku dan ibuku benar-benar karunia Tuhan yang
selalu ku rasakan.
Hingga
hari ini ku mampu menjadi awardee di LPDP dan mampu melanjutkan S-2 berkat
pertolongan Allah SWT melalui LPDP. Dengan tekatku yang kuat sebagai rasa
terimakasihku untuk LPDP ku terus mengukir prestasi di akademisku dan
memberikan loyalitas dalam mensosialisasikan beasiswa LPDP bagi orang-orang
yang membutuhkan. Hingga kini sekalipun di tengah kesibukan ketika ada inbox
dari sosmed yang menanyakan tentang LPDP ku coba untuk melayani dengan loyal
sesuai dengan lima sifat yang selalu ditanamkan dari LPDP.
Mei_Va
Sesuatu
yang benar-benar aneh,
Begitu
banyak ativitas di luar, begitu banyak tawaran canda tawa di luar, begitu
banyak hiburan yang tersedia, begitu banyak.
Ku
merasakan malam yang begitu romantis dengan keindahan sang cahaya yang terlihat
dari pancaran kelipan lampu di tengah gelapnya langit tanpa bintang.
Euforia
keindahan yang ditawarkan alam begitu memikat.
Namun,
mengapa masih saja airsuci ini kian mengalir, masih saja hati ini merasa ada
yang hilang, merasa sepi tanpa apapun. Akankah ku kurang bersyukur atas begitu
banyak nikmat-Nya hari ini.
Ketika
dalam kesendirian ku coba untuk bertanya pada kedalaman hati ini apa yang
sebenarnya ku inginkan? Teman sudah banyak, bukan. Keluarga lengkap, prestasi,
aktivitas dan dunia maya. Tapi, tetap saja ada yang kurang dalam kehidupan ini.
Mei 2014, kehadiran bulan itu bagaikan kilatan petir di tengah gemerlap malam
dengan sejuta keindahan bintangnya. Bulan yang menjadikan kebahagiaan bagi
sebagian orang semakin sempurna. Sayangnya tidak dengan jiwa ini.
Mei
adalah bulan baru. Ya, terbisik olehku ketika itu bahwa semua akan berbalik 180
derajat. Ternyata kebahagiaan itu tidak selamanya menghampiri. Ternyata
kebahagiaan itu memiliki banyak defenisi. Ketika pendidikan menuntut
pembelajaran yang bermakna, maka jiwa ini juga butuh hari-hari yang bermakna.
Ketika pembelajaran bermakna berpatokan pada guru, maka hari-hari bermakna pada
jiwa ini adalah
ketika...........................................................................
Kini
hari-hari ini terasa seperti sinetron yang berharap episodenya segera berakhir.
Canda tawa yang terukir sebatas sandiwara bukan canda tawa lepas.
Haha,
terasa bodoh. Ketika melihat kalender ternyata hari-hari yang dilalui masihlah
terlalu sedikit. Masih bisa dihitung dengan istilah bulan.
Hati
itu sulit untuk dibohongi. Hati sulit diajak untuk bersandiwara tak seperti
lidah yang mampu berbalik kata, tak seperti senyuman dan tawa yang mampu
dibuat-buat. Hati begitu jujur.
Ntah
apa yang ditunggu setiap hari, kalender yang segera bertukar maju, atau
sebaliknya kalender yang bertukar mundur untuk mengulang hari kemarin.
Ketika
memang kalender mampu ditukar mundur maka ku tak ingin memijakkan kaki di
kampus hijau itu, ku tak ingin mengadakan pertemuan di auditorium itu. Dan ku
tak ingin bermain di lapangan merdeka itu. Seharusnya ku tak perlu mengenal
seorang teman. Seharusnya ku tak perlu membuka hati. Sendiri selamanya mungkin
akan lebih indah. Menahan dan menyimpan semuanya dengan rapi. Tiada pernah
terukir canda tawa lepas di lapangan itu, atau berbagi cerita dan pengalaman.
Sebentuk kamar dengan benda-benda mati mungkin lebih baik karena mereka tidak
memiliki hati dan tidak merasa tersakiti ketika jiwa ini melakukan kesalahan
atau kekhilafan.
Ah,
semua sudah terjadi. Ntah sampai kapan hukuman ini mampu dilalui. Hingga
keakutan ini semakin parah, atau hingga jiwa ini tak lagi mampu bermanfaat
untuk orang banyak.
Dari
kecil langit dan bintang selalu menjadi teman. Dan hari ini lagi-lagi mata ini
menatap keatas. “hei langit, ternyata kamu yang paling setia. Menjadi teman
selamanya. Tak pantaskah jiwa ini memiliki teman yang sesungguhnya”.
Kata
mereka jangan pernah pacaran karena akan menyakitkan. Ya, itu benar. Jiwa ini
tak pernah merasakan pernah menjalani pacaran. Jiwa ini pernah kehadiran seorang
teman hidup, sejiwa, satu senyuman dan satu api semangat. Teman yang dikira tak
kan pernah putus hubungan bahkan meninggalkan jiwa ini. Teman, ya memang teman.
Jiwa ini pernah kehadiran sosok adik yang begitu manza dan usil. Manzanya
mengajarkan jiwa ini untuk mencintai, menghargai dan menyayangi. Usilnya
mengajari jiwa ini untuk selalu tersenyum dengan candaan yang dilakukan sang
alam dan teori kehidupan. Jiwa ini pernah kehadiran sosok abang yang begitu
dewasa. Kedewasaannya membuat jiwa ini merasa ada yang melindungi.
Kedewasaannya membuat jiwa ini selalu hidup dengan kata-kata motivasinya. Jiwa
ini juga merasakan pengorbanan yang ia lakukan. Kedewasaannya yang selalu
mengalah dan merasa jiwa ini selalu dimanza oleh kedewasaannya. Kedewasaan yang
begitu tulus. Jiwa ini pernah kehadiran sosok ayah yang begitu bersahaja.
Kebersahajaannya mengajarkan jiwa yang begitu keras ini beranjak untuk rapuh.
Sahajanya mengajarkan jiwa ini untuk bijaksana. Kebersahajaannya benar-benar
sempurna. Sehingga jiwa ini sempat merasakan adanya keluarga kecil yang baru
bersamanya. Sosok teman, adik, abang, ayah semua itu ada di satu jiwa. Yang
berawal dari ketulusan bukan kepesonaan atau kelebihan.
Yah,
semua itu Cuma kisah.
Ini
salah seorang diri yang terlalu bodoh atau buta. Kebodohan yang begitu besar
dalam kebutaan. Ibarat mengikis kulit sendiri yang akhirnnya akan mengenai
organ tubuh bagian dalam. Mengecewakan, sungguh mengecewakan.
“Kecewa”
hanya enam huruf yang dimiliki kata itu, namun enam huruf itu serasa bumi yang diruntuhkan.
Mau
cerita ke siapa? Gax ada, gax mudah untuk memiliki teman. Ya teman yang
sesungguhnya. Cuma satu di dunia ini dan belum sempat di fotocopy. Cukup satu
dan gax akan hadir lagi. Hidup tanpa teman serasa separuh jiwa yang berjalan.
Ah,
lagi-lagi semuanya Cuma kisah. Kisah di negeri dongeng? Tidak, ini bukan
dongeng. Ini hati. Ah, mungkin jiwa ini terlalu dini untuk mampu memahami jiwa
yang lain. Apa yang jiwa ini tau tentang hati. Jiwa ini terlalu tajam hingga
selalu melukai jiwa yang lain.
Ya,
“urus diri masing-masing” kalimat
itu..................................................................................
07
Mei 2015
Selasa, 07 April 2015
Metamorfosis puing-puing bangunan cinta
... dan kini kamu biarkan hati ini seperti kian buta atau hampa. dalam menghadapi ntah apa yang sebenarnya terjadi. aku gamang, aku serasa tersesat ingin pergi kemana. haruskah pergi dari hatimu atau tetap dalam gumpalan luka. ketika ku ingin pergi dari hatimu, aku tak tahu memulainya dari mana dan harus keluar dari jalan mana, serasa semuanya gelap. aku benar-benar tersesat.
kelas sore ini tak mampu membuatku fokus, pandangan ku kosong masih diamuk oleh rasa bersalah, rasa bertanya dan ntah sampai kapan aku dalam keadaan seperti ini. akankah kamu bahagia disana dengan keadaanku hari ini.
terlintas kata-kata kasarmu di hari kemarin. benarkah kau begitu membenciku hari ini,
Tuhan.. aku butuh pelukkanmu
kelas sore ini tak mampu membuatku fokus, pandangan ku kosong masih diamuk oleh rasa bersalah, rasa bertanya dan ntah sampai kapan aku dalam keadaan seperti ini. akankah kamu bahagia disana dengan keadaanku hari ini.
terlintas kata-kata kasarmu di hari kemarin. benarkah kau begitu membenciku hari ini,
Tuhan.. aku butuh pelukkanmu
Senin, 05 Januari 2015
Canda Tawa
Canda ini...tawa ini ...
sungguh menyimpan banyak rahasia
yang suatu hari kamu tak akan mampu mengungkap@ sampai kapan pun. Dan aku tak akan mengukir kembali hari ini dalam sebuah semenandung tulisan yang berbentuk artikel bahkan jurnal yang dengan runtun menjelaskan apa,emgapa, dimana dan kapan.
sungguh menyimpan banyak rahasia
yang suatu hari kamu tak akan mampu mengungkap@ sampai kapan pun. Dan aku tak akan mengukir kembali hari ini dalam sebuah semenandung tulisan yang berbentuk artikel bahkan jurnal yang dengan runtun menjelaskan apa,emgapa, dimana dan kapan.
Langganan:
Postingan (Atom)